Pukul sebelas lewat sepuluh malam. Di sekitaran waktu itu ada yang sudah memejamkan mata, melepas lelah berkegiatan selama seharian. Lalu ada juga yang bercengkerama dengan orang-orang yang paling berarti dalam kehidupannya. Beberapa yang lain masih asyik bersenda gurau dengan rekan-rekan sejawat di kafe favorit masyarakat urban, atau di warung kopi sederhana di sudut terkumuh kota. Atau ada pula yang baru berangkat ke lokalisasi di lorong-lorong sempit pemukiman kota, menjemput rezeki di tengah nyanyian sumbang dan caci-maki budaya patriarki.

Di waktu yang sama, aku tercekat menatap kosong ke langit-langit reyot di kamar sempit ini dengan beribu topik lalu lalang tanpa permisi di kepala. Tentang friksi dengan rekan panitia sore tadi, tentang artikel untuk pers kampus yang gagal naik, lalu kecerobohan demi kecerobohan yang acapkali terjadi di luar kuasa diri. Ketidakberdayaan untuk berdamai dengan diri sendiri selalu mengalahkan rasa syukur yang sebenarnya lebih mudah dicari di mana saja.

Ruang Sepi

Tidak sadar sudah genap satu jam pikiranku bertingkah demikian. Mata sudah terkantuk bukan main, namun pikiran-pikiran di kepala ini enggan untuk beranjak. Hal-hal ini kerap kali terjadi tanpa sanggup akal manusia biasa untuk mencegahnya. Ada saat dimana batin begitu tersiksa oleh segala kekacauan di dalam kepala ini. Mungkin jika ada sepucuk pistol tergeletak di sampingku saat itu juga aku akan meledakkan kepala ini. Bukan, bukan. Tak pernah terbesit sedikitpun niat untuk mengakhiri hidup sebagai pengecut. Aku hanya ingin menyingkirkan rasa sakit yang tak henti-hentinya menindih kepalaku selama ini.


Kamar yang kutempati ini tidaklah luas, standar 3 x 4 ala mahasiswa pada umumnya. Selama tiga tahun berkuliah kamar ini menjadi ruang sepi terfavorit di kala timbul penat akan segala macam tetek bengek kehidupan di luar kamar. Di hari kerja biasa, kamarku ini selalu ditinggalkan dalam keadaan berantakan, seperti keadaan negara akhir-akhir ini. Namun ketika malam menjelang, aku merindukan kasur di kamarku ini sebagaimana halnya aku merindukan liburan akhir semester.

Sekian lama terjaga, aku akhirnya memaksa diri untuk bangkit dari kasur. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Sudah genap tiga jam mataku gagal terpejam akibat pergulatan ini. Aku mencoba meraih ponsel genggam yang tersimpan rapi di atas meja. Lalu aku periksa kalender, dan tak terasa kurang lebih sebulan lagi ujian semester ini akan berakhir. Itu artinya aku akan pulang kampung bulan depan, yang mana merupakan satu-satunya hal yang melegakan raga ini di tengah riuh masalah yang tak henti merempuh.

      .    .    .    .

Katanya, pergilah sejauh mungkin namun jangan lupa untuk sesekali pulang. Pulang adalah cara untuk tetap menjadi manusia. Itulah sebaris kata yang kuingat dari orangtua, sebagai bekal paling berharga yang mereka berikan sebelum aku berangkat merantau ke Bintaro. Seiring dengan bergulirnya waktu, hidup mulai banyak mengajarkan tentang berbagai hal yang manusia sebut “rumah”, sebagai tujuan akhir dari perjalanan pulang. Seberapa berat langkah kaki beranjak pergi, ruh ini akan selalu menemukan caranya untuk pulang. Entah itu berupa kampung halaman, tempat paling berkesan, atau seseorang. Ah, sudahlah. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Tidak ada satupun yang bersedia menjadi tempat tinggalku. Semuanya singgah dan berlalu begitu cepat. Namun setidaknya rumah orangtua menjadi satu-satunya opsi obat penawar untuk saat-saat kondisi seperti ini.

Seminggu terasa begitu lambat. Pikiran-pikiran negatif tetap lalu lalang di kepala. Aku menggeletakkan diri di atas kasur setiap pukul sepuluh malam. Menghadapi rutinitas perkuliahan dijalani, menghadapi banyak orang di persimpangan jalan, belum juga pelajaran akuntansi yang sulit dicerna, dan sebagainya. Namun menakjubkannya, aku bisa bertahan selama ini. Menjadi seorang mahasiswa perantauan tanpa persiapan yang memadai memang melelahkan dan merusak batin. Aku berpikir, hidup sepertinya bakal lebih mudah jika kita tak berurusan dengan manusia lain. Jean Paul Sartre, seorang filsuf tersohor abad 20 pernah bilang di bukunya tentang eksistensialisme, neraka bagi manusia adalah eksistensi manusia lainnya. Itu adalah contoh ekstrim karena di dunia ini manusia hidup dengan konsekuensi. Berbagai konsekuensi itulah yang harus dihadapi sekeras mungkin sebagai makhluk hidup. Menjadi jiwa-jiwa yang keras dalam menantang hidup.

.    .    .    .
Ruang Tengah

Tak ada yang lebih melegakan dibanding makan malam di ruang tengah bersama keluarga, lengkap. Sesuatu yang jarang aku rasakan semenjak memutuskan untuk melanglang buana setahun yang lalu. Waktu berlalu begitu cepat, hingga aku bisa lebih menghargai saat-saat bersama keluarga di ruang tengah seperti sediakala. Menikmati hidangan yang disajikan Ibu tiap selepas menunaikan ibadah maghrib, adalah rutinitas yang paling bisa dirasakan kehangatannya. Jauh dari ingar bingar teriknya siang. Ruang tengah adalah sebaik-baiknya tempat kembali, menyepi sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.



Hari demi hari menjelang. Hingga pada saat-saat paling sulit dalam tiga tahun kuliah yaitu Ujian Akhir Semester akhirnya berlalu juga. Tak terhingga betapa banyak beban yang kupikul di hari-hari itu. Namun pada akhirnya, semuanya akan terlewat begitu saja.

Hari itu, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Aku mulai mengemas semua perlengkapan untuk pulang nanti. Lalu kulihat kembali jam dinding yang menggantung di sudut kamar. Pukul sebelas lewat sepuluh. Aku tersenyum. ‘Akhirnya tiba juga’, gumamku pelan. Lalu aku kembali bergegas, mengumpulkan barang sekaligus serpihan memori yang berserak di kamar ini, sambil memastikan tidak ada yang tertinggal.

Ruang Tunggu

Beberapa jam kemudian aku sampai juga di bandara. Setelah lapor dan mendapat tiket, aku melangkahkan diri ke ruang tunggu bandara. Ruang tunggu bandara adalah tempat di mana orang-orang hilir mudik mencari titik terbaik untuk menunggu keberangkatan sambil merenung. Ada yang sembari membaca buku dengan kabel headphone tertanam di kedua telinga, ada yang mengobrol dengan teman sebelahnya, ada juga yang asyik meminum kopi sambil menikmati hidangan tayangan televisi di depannya, semuanya menikmati waktunya masing-masing sembari  bayangan akan kemungkinan menghadapi penerbangan terakhirnya sekelebat muncul entah dari mana.

        .    .    .    .

Di ruang tunggu aku duduk menyepi di tengah riuh orang lalu lalang menanti keberangkatan. Beberapa saat kemudian datang seorang ibu paruh baya dengan membawa tas yang banyak di kedua tangan dan punggungnya. Melihat tingkahnya yang agak kebingungan mencari tempat duduk, aku memberi isyarat kepada dia untuk duduk di sebelahku. Aku menawarkan diri untuk mengambil satu tas dari pangkuan dia lalu aku menaruhnya di bangku satunya lagi. Ibu itu berterimakasih lalu menyodorkan roti yang sedang digenggamnya. Aku menolak dengan sopan, sembari bertanya “Ibu mau pulang kampung juga?”. Ibu itu mengangguk lalu bertanya balik sembari memperhatikan penampilanku yang tipikal, “Masnya dari kampus **** ya? Anak saya juga kuliah di sana juga dulu, tapi dia tidak lulus semester kemarin. Sekarang dia lagi persiapan buat coba SBMPTN lagi tahun depan”. Aku cukup terkejut mendengarnya namun mencoba untuk tetap santai sambil menanggapi dengan cara yang paling diplomatis, “Semoga anak Ibu mendapat rezeki yang lebih baik kedepannya ya Bu.” Ibu itu tersenyum, lalu dia merogoh kantung tasnya untuk mengambil telepon genggamnya. Dia kemudian mengabari orang yang ada di telepon bahwa sebentar lagi pesawatnya akan berangkat. Dia berbicara kepada orang itu seakan-akan mereka tak akan bertemu lagi setelah penerbangan ini.

 Beberapa saat kemudian panggilan naik pesawat berkumandang. Aku bergegas mengambil semua barangku lalu turun tangga ke landasan. Deru mesin pesawat yang sedang dipanaskan terdengar pekak di kejauhan. Aku menengok arlojiku di lengan kiri. Pukul sebelas lewat sepuluh siang. Aku tersenyum simpul lalu menatap bayanganku sendiri di lensa arlojiku. Ada kerut pilu yang perlahan berpudar di sana. Dengan koper di tangan kanan, aku pulang ke kampung halaman tanpa menengok ke belakang lagi. Sembari berharap semuanya akan dan tetap baik-baik saja pada akhirnya.



It’s good how nowadays mental health is getting more and more recognition and become a main concern for majority of us. What’s so important about concerning this issue? I think because me, and some of people used to be told by our parents that you should be able to solve our own problem. If you can’t solve the problem, you should able to find the positive “copy mechanism” to reduce the stress. The only “copy mechanism” they want is pray more. Yes it’s the good choice. But by the time goes on, it’s really important to not lift that burden alone. In some cases, you can either go to professional helper such as psychologist, or share your thoughts and feeling to the other. It could be your closest one or maybe the stranger one. Therefore, people have a various way to treat their closest one when they’re suffocated in bad situations.

So today is 30th July and that means it’s a friendship day. I wanna write about some of my closest persons in my life so far, and what they do to soothe me. So I was in some unexpected trouble couple weeks ago. My first one call away is definitely my dad & mom. Both are using the same mobile phone. I was trying to reach them but no answer. It’s been a hard day, and I don’t know what to do instead of talking to my closest ones.

The first one is Raja, my boarded-house mate, also my workmate. He was there when everything happened. Moreover, he already know what happened, and what he did is calm me and told me to just fly back to Bandung to calm me down. Because nothing I can do there. And he told me to take care of my lungs condition as soon as possible. What he did is like what I do usually to others but I’m very thankful because it means to me. 

The second one is Dea, the workmate I trust that much right now. I decide to call her and told everything that happened because sooner in the morning I texted and called her before the things started to fall apart. Her reaction is only, “Bam, I will be angry if you are sad. Don’t be sad! I left you a pack of Makaroni Ngehe when you come back here!”. I don’t know if I should be happy or sad hearing that but at the end I was cracked up because I know it was just Dea did her things. And the next day she said on the phone, “ At that time your voice was crumbling, I didn’t know what to say.”

The next day, I texted Puan. She is the real definition of the man at the right place( in this case, the woman). She’s currently the person in charge to know whatever happens with workers in my office. She surprised at the beginning, then I told her that I will take a free days to calm myself by flying to Bandung the next day. Puan noded and hoping everything will be okay.

The last ones were both my parents. I don’t want them to do anything for me though. Maybe I just need them to pretend to be there, and that’s enough. Being in Bandung for only four days were more than enough to get rid of this temporary sadness. The only things I knew is what should I do to redeem their kindness all this time, because I don’t like talking to each other if my parents and I don’t meet each other directly.

My point is, we are not an existentialist human being, otherwise we are living by consequences. People are nice to us if we do the same, reciprocally. Not all people though, only the closest one. Therefore that rule ain't prevailed sometimes. On the other hand, it's important to get a wider connection as we grow older, but at the same time keeping our circle small and close is also an urge. By the end of the day, friends can’t be always there for us. They only listen to us, and try the best they can. After they were gone, we have to swallow our sadness, alone. Try to value our closest circle at the most possible and keep their close. Indeed, life sucks, but I can assure everyone feel the same. Just enjoy while it lasts. 

Sore di Titik 0 kilometer, Sabang

Sayup sayup paduan suara terdengar parau namun begitu merasuk sanubari di hadapan sang merah putih, menyanyikan sebuah bait demi bait, merenungkan betapa luasnya tumpah darah anak cucu negeri ini. Petikan “Dari Sabang Sampai Merauke, berjajar pulau-pulau” selalu membuat kita bangga bahwa negeri yang kita pijak ini begitu luas terentang sampai ribuan kilometer, diapit dua benua dan dua samudera, namun tetap mengaku satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Lalu timbul sebuah pertanyaan yang mengambang di kepala sedari kecil. Seberapa jauh sih Sabang? Seberapa timur sih Merauke? 


Pantai Iboih


Sebagai prolog, Sabang adalah kota terbesar yang berada di Pulau We, di ujung barat provinsi Aceh, sekitar 14 km dari Banda Aceh. Untuk menyeberang dari Banda Aceh ke Sabang bisa lewat pelabuhan Ulee Lheue, 20 menit dari pusat Banda Aceh. Ada dua alternatif, kapal feri konvensional dan kapal cepat, namun sebenarnya perbedaan yang signifikan hanya soal harga, jadi saya sarankan lebih baik pakai kapal feri biasa dengan jarak 2 jam sekali pergi.

Sabang yang selamat dari amukan tsunami 2004 silam akibat benteng bawah laut alami di sekitarnya ini menjanjikan pantai-pantai pasir putih yang mengilap(katanya) dan yang paling utama adalah sensasi menginjakkan kaki di ujung terbarat nusantara.

Titik 0 Kilometer


Disana saya menginap di Rade Inn, di daerah Sumur Tiga yang merupakan salah satu destinasi pantai favorit di Sabang. Harga per malamnya adalah 300 ribu. Ada beberapa homestay lain yang muncul di Traveloka, hanya saja saya sangat merekomendasikan Rade Inn ini karena dekat kemana-mana(kecuali ke Titik 0) dan tempatnya sangat nyaman untuk beristirahat dengan harga yang terjangkau.

Pantai Pasir Putih

Pertama kalinya menginjakkan kaki disini, Bayangan saya tentang Sabang tak bisa lepas dari kota penting pada masa Perang Dunia II, karena sempat dijadikan Jepang sebagai penyangga Singapura yang dulu merupakan pusat komando Jepang di Asia Tenggara saat itu. Terbukti dari banyaknya benteng maupun bunker yang tersebar di seantero Sabang yang bertahan kokoh sampai sekarang ini. 

Sabang struktur pulau berbukit-bukit, beda jauh dari bayangan awal Sabang sebagai pulau melulu dataran rendah dengan pantai sebagai objek utama. Sehingga sudah paling pas untuk menyewa motor atau mobil untuk touring keliling pulau semau kita. Harga sewa motor per harinya 150 ribu rupiah, termasuk harga standar untuk ukuran destinasi wisata. 

Pantai Sumur Tiga


Untuk destinasi-destinasi kunjungan biasa, biaya masuknya termasuk murah untuk ukuran tempat wisata normal, karena setiap objek dikenakan biaya maksimum sampai 5000, kecuali saat snorkeling di pantai Iboi, biaya sewa untuk peralatannya kisaran 100 ribu sampai 200 ribu. 

Setelah uraian tentang pengalaman di Sabang, ini saya rasa bagian terbaik dari travelling atau berpergian jauh adalah membuka landskap pengetahuan kita selebar-lebarnya, bahwa kita tak pernah benar-benar hidup sendirian di dunia ini. Selalu ada cara untuk bertemu orang baru, dan selalu memperbarui peta pemikiran kita tentang manusia, seperti yang dibilang Kierkegaard tentang intersubjektivitas manusia sebagai subjek yang membutuhkan individu lainnya untuk hidup.

Landskap Kota Sabang

Sabang memang tidak terlalu mewah seperti di Sumbawa atau Lombok. Namun percayalah, menginjakkan kaki di ujung terbarat Indonesia adalah salah satu pengalaman yang tak boleh dilupakan untuk menyerapi makna lagu nasional Sabang sampai Merauke itu . Dan dengan semakin sering alarm peringatan bencana berbunyi kencang di seantero titik-titik berbahaya di Tanah Air, kita pun jadi lebih mengetahui tentang apa saja destinasi wisata yang ternyata potensial jadi episentrum bencana, seperti misalnya saya baru mendapat kiriman video dari teman saya ternyata air laut di Sabang sedang naik, padahal baru saja pulang dari sana seminggu lalu. Semoga negeri kita baik-baik saja, dan senantiasa dalam pelukan Tuhan sampai akhir zaman.


disclaimer: semua foto disini adalah dokumentasi pribadi saya dan beberapa dari  teman saya.




Too much ‘OOO — AAA-YEAAHH’ thingy that make those songs so similar and lacks of soul at the same time.

If you weren’t happy yet for abundant amount of music release this year, please take a look at 2006’s prodigy back then. Yep, The Kooks. They release debut album almost took the same time as another unstoppable debut album Whatever People Say I Am Thats Why I Am Not from Arctic Monkeys.

Luke Pritchard cs already stated in interview that The Kooks will walk on the different path from Listen(2014) and trying to back to their root. And the result?Not so disappointing though.

For those who ask The Kooks to be on their prime at Inside In/Inside Out era perhaps will be pleased by how The Kooks pulled back to where they used to deliver when we are listening to their pre-album singles; endless happiness. But let see how Let’s Go Sunshine works for us.



Hugh Harris, their main guitarist, stated to the media that they reflected from their togetherness in the last 12 years, they made this album to embrace their togetherness and have fun.

So, what's the result? Let’s Go Sunshine lacks of soul, much different from expectation. I don’t know, but after third time played it on repeat, I felt like…kinda boring. Probably Let’s Go Sunshine lacks of soul unlike The Kooks own from their first three albums. Since audience given a heard from their four singles; All The Time, No Pressure, Four Leaf Clover, and Fractured & Dazed some of us expected Inside In/Inside Out 2.0 which also included some short-masterpiece like Seaside. Apparently, at Let’s Go Sunshine there’s no such thing as deep lyric and too much ‘OOO —AAA-YEAAHH’ thingy that make all things so similar and lacks of soul at the same time. So we can say that Let’s Go Sunshine is not safe for deep-diving listener. That’s not much to discover from their latest work beside Tesco Disco and Picture Frame. The rest are flat. But if you only craved for some Inside In & Inside Out vibe, perhaps Let’s Go Sunshine will suit you. Just played around All The Time, Four Leaf Clover, Fractured and Dazed and No Pressure back and forth. Moreover, some of The Kooks’s tune in the past were strong lyrically, especially Sway, Is It Me, and ultimate hit Naive. But in Let’s Go Sunshine I haven’t found any decent lyric. Only Four Leaf Clover which much close to.

I’m sorry for my honest opinion, but Let’s Go Sunshine isn’t as good as people think about. Luke Pritchard delivering with Bob Dylan-ish style not even help much to make Let’s Go Sunshine as decent as expected. 

Ini adalah sebuah resensi sekaligus panduan singkat untuk menyukai sebuah band hard rock bernama Ghost.

Teman-teman semua pasti ingat titik dimana kita pertama kali bersentuhan dengan musik yang keras, yang penuh teriakan membara, yang sebelumnya belum pernah kita dengarkan. Ada yang mendengarkan lewat kaset kakaknya, ada yang dari hasil tukaran koleksi MP3 dengan teman. Bandnya pun bermacam-macam. Ada yang jatuh cinta pada Slipknot karena kakaknya sering memutar di rumah seperti saya. Ada pula demam Avenged Sevenfold pertengahan 2000-an di lingkup bocah warnet.

Ghost sebagai pendatang baru dengan wajah kult satanis yang mungkin sulit diterima banyak orang. Perjalanan Ghost dalam era rock n roll ini tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjalanan musik rock yang tercampur isu miring tentang kuasa gelap, terhitung dari rilisan terlegendaris Sgt Pepper Lonely Clubnya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, sampai Ghost, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Kedatangan Ghost ini pada awalnya mirip seperti band band terdahulu yang banyak memakai gimmick(atau beneran?) satanis dan wajah anti agama seperti Judas Priest atau Iron Maiden. Namun dua album belakangan Ghost memiliki tendensi kuat untuk menggapai pendengar yang lebih luas. Tidak terpaku pada masyarakat cult yang itu itu saja. Beberapa langkah yang diambil Ghost di album terakhirnya yaitu Prequelle yaitu mengganti frontman sekaligus memutus trah Papa Emeritus menjadi seseorang pengabdi setan yang lebih energik dan luwes dalam bentuk Cardinal Copia alias Cardi C. Selain itu, warna musik Ghost juga semakin bergeser menjadi radio-friendly dan kadar pemujaan setan yang makin berkurang. Bahkan single kedua dari Prequelle yaitu Dance Macabre merupakan lagu cinta-cintaan, yang akui saja cukup cheesy untuk ukuran Ghost. Apakah itu buruk? Tidak juga. Perubahan yang dialami Ghost sama saja seperti musisi pada umumnya. 



Namun perubahan yang dialami Ghost ini perlu diperhatikan lebih jauh, terutama di beberapa sesi interview yang dijalani Tobias Forge. Tobias menyebutkan bahwa memang tujuannya lah untuk membawa Ghost lebih dikenal luas dan mendapat wider listener. Salah satu caranya, mengurangi kadar cult yang selama ini melekat pada nama Ghost, yang sangat terlihat pada album terbarunya, Prequelle. Tentu saja fans Ghost dari awal masih teringat ketika masih di tur dunia Cirice, Papa pernah bilang bahwa album selanjutnya (yaitu Prequelle sekarang ini) akan menjadi album yang paling kelam dan gelap dari seluruh album Ghost. Ya, kali ini tema besarnya tentang black plague, wabah hitam di Eropa di abad pertengahan. Meskipun masih seputaran kematian, banyak yang bilang Ghost sudah tidak se-dark dahulu. Warna sound yang dibawakan juga tidak sekelam dahulu ketika organ gereja dan bebunyian creepy lain menjadi bagian dominan dari musik Ghost.

Dengan gimmick baru, Cardinal Copia seakan ingin menunjukkan bahwa Ghost mampu melampaui segala batas dan rintangan, dan konsistensi keinginan untuk menjadi lebih besar lagi. Cardinal Copia kini digambarkan sebagai junior dari Papa Nihil, yaitu Papa segala Papa, yang ditugaskan meneruskan tongkat estafet dari Papa Emeritus III yang nyentrik itu. Cardinal Copia yang sekarang ini adalah Papa Emeritus III dalam versi yang lebih flamboyan lagi; dia digambarkan jago berdansa dalam video klip terbaru ‘Rats’. Di video itu Copia lebih mirip penari balet profesional dibanding seorang vokalis band satanis. Meskipun beberapa kritik datang menerpa, mereka tetap memilih jalannya sendiri, menjadi besar dan terus mekar.
Lalu bagaimana dengan Prequelle sendiri? Menurut hemat saya, Prequelle ini adalah tipe album yang harus didengarkan secara utuh, sama seperti ketiga album Ghost sebelumnya. Tiap album punya satu tema besar tersendiri, walaupun tidak bisa disebut album konsep. Seperti biasa, Prequelle dibuka oleh nomor instrumental dihiasi oleh bebunyian mencekam disertai nyanyian lirih beberapa anak, sebelum dihajar oleh Rats, Faith, See the Light, dan seterusnya. Nomor yang menjadi pembeda adalah Pro Memoria serta nomor penutup Life Eternal yang terlampau indah untuk dijabarkan dalam kata-kata di tulisan ini. Sebuah jaminan mutu 100 persen langsung suka, terutama jika anda sebelumnya punya basic suka musik hardrock.

Apakah penjabaran saya cukup untuk menjadi panduan teman-teman menyukai Ghost? Namun balik lagi ke hakikatnya musik yang mirip seperti agama, musik merupakan hak milik ranah privat. Terserah mau suka musik yang mana, genre yang mana, asalkan tidak mengusik kebahagiaan orang lain dengan menjadi bigot atau snob, ya silakan saja. 


Lupakan era AM, lupakan Alex Turner yang menjadi bom seks bagi internet darling di era 2013-2014, lupakan pula Arctic Monkeys yang dahulu penuh spirit rock n roll membara khas Britania Raya. Now we’re welcoming the new era of Arctic Monkeys.

Semuanya berawal dari penampakan foto Alex, Jamie, Nick, dan Matt yang reuni di tanah kelahiran mereka yaitu Sheffield di akun-akun fanbase, lalu tentunya Alex yang mulai menumbuhkan jambang dan menggondrongkan kembali rambutnya(yang jujur saja, terlihat  seperti om-om pengedar narkoba necis, walau tetap keren sih). Lalu awal tahun ini linimasa Arctic Monkeys kembali aktif dengan merilis logo baru, jadwal tur dunia serta teaser album yang sangat menggoda dengan irisan sikedelik ala Tame Impala serta sisa-sisa kejayaan side project Alex, TLSP.

Lalu beberapa minggu kemudian.

Voila!

11 Mei 2018.

Harinya Arctic Monkeys dan fans di seluruh dunia.

Tepat pukul 6 pagi waktu Indonesia,  Tranquility Base Hotel & Casino rilis dan boom. Semua orang terkejut ketika memutar satu persatu lagu yang jauh dari citra  Arctic Monkeys yang liar, muda, cepat, lincah, seksi, dan berbahaya. Sebaliknya, TBHC lebih cenderung merupakan upaya Alex untuk membuat album solo prematur yang kebetulan ditempeli nama Arctic Monkeys, menurut sebagian besar orang. Tapi apa mau dikata, album ini memang sangat jauh dari bayangan saya ketika membuat prediksi sebelumnya. TB&HC ini sangat jazzy, kalem, dan elegan. Album yang piano-oriented dengan aransemen yang sebenernya cukup monoton. Bisa dibilang ini adalah album pertama Arctic Monkeys yang bergenre space themed lounge, karena mendengarnya kita akan berasa berada di ruang angkasa lengkap dengan perlengkapan ala astronot serta selang oksigen menempel. Apakah itu bagus? Hmm..putaran pertama album ini membuat saya tertidur pulas. Untungnya saya berusaha keras untuk memutar terus dan untuk putaran kesekian kalinya, barulah saya mulai menikmati album ini. Entah mengapa saya menemukan perasaan yang sama seperti ketika pertama kali mendengar album Humbug. Saat Humbug pertama kali rilis, banyak orang yang tidak suka karena perubahan sound yang radikal dan lebih gelap dari sebelumnya, baru setelah beberapa tahun Humbug mendapat pengakuan sebagai album yang superior. Bagi yang kupingnya terbiasa dengan genre jazz atau swing sepertinya bakal lebih mudah untuk menyukai album ini.


Mojomagz

Dimulai dari Star Treatment yang dibuka oleh penghambaan Alex kepada The Strokes, hingga ditutup oleh copycat dari ballad ala 'No 1 Party Anthem', 'The Ultracheese' semuanya punya pakem yang sama. Tempo lambat dengan vokal Alex yang semakin 'seductive' dibanding album-album sebelumnya. Kecuali 'Four Out Of Five' yang memang paling standout karena punya berwarna Tame Impala dan chorus  yang kuat. Satu hal yang tak berubah adalah gaya penulisan Alex yang tak pernah pudar, penceritaan yang mengalir dari bait ke bait, lagu per lagu dengan bumbu lelucon khas Alex yang mudah kita temui di beberapa lagu. Kita tak akan menemukan penyanyi selain Alex yang bisa menyanyikan chorus ‘Good Morning. Cheeseburger. Snowboarding.' di 'She Looks Like Fun' dengan merdu dan jenaka pada saat bersamaan.

Billboard.com

Saya yakin, album Tranquility Base Hotel & Casino akan memecah fanbase Arctic Monkeys menjadi beberapa kubu. Pertama, kubu yang benar-benar menyukainya karena murni kualitas album dan songwriting skill Alex yang tak berubah. Lalu kubu kedua, tetap menyukai AM karena ‘gak peduli Alex mau jungkir balik kayang berak ngasal kaya gimana juga, gue tetep cinta doi’. Dan kubu ketiga, mundur perlahan sebagai fans  Arctic Monkeys karena  kecewa berat  dengan TBH&C yang mereka tuduh merupakan  penyimpangan dari jalan rock n roll mereka.  Beberapa diantara mereka juga bahkan membuat petisi online yang menuntut Alex and Co. segera merilis album sesungguhnya dan menganggap TBH&C adalah sebuah prank yang sungguh tidak lucu.

Di sisi lain, Tranquility Base Hotel & Casino juga menunjukkan keluwesan AM dalam menentukan arah sendiri, tak melulu berpatokan dengan jalan rock n roll yang mereka pegang kukuh dari album pertama. Ini sebenarnya sudah ditunjukkan oleh album AM dan lagu-lagu bertempo sedang cenderung ballad seperti Only Ones Who Know di Favourite Worst Nightmare, jadi seharusnya sih kita tak perlu kaget berkepanjangan. Dan justru itu juga kita dibuat penasaran kembali apa lagi eksperimen Profesor Alex dan kolega di AM7 dan selanjutnya.               

Anyway, Arctic Monkeys tetaplah Arctic Monkeys. Cinta pertama saya kepada  musik ((indie)) yang takkan pernah luntur  sampai kapanpun. Konyol jika masih berharap Arctic Monkeys bakal tampil live selugu di Glastonbury 2007, sekelam di Reading 2009 atau seklimis di Glastonbury 2013. Sebaiknya kita bersyukur toh masih diberi kesempatan untuk tumbuh menua bersama lagu-lagu mereka yang tak lekang digrogoti usia.






‘Combined the feeling of depressed yet so hopeless, a local post rock song you won’t regret to hear’

Some years ago, I found this band from some random local shoegaze playlist at Soundcloud. They claimed themself as  alternative band based in Bandung, Indonesia who can deliver us an unexpected imagination and vision from another side of this world. ‘Lost’ is one of the most notable song they have ever produced.

What can I say is they truly can reflect what they already stated  in self description above. I love how they conveyed the expression of mixed feeling within 5 minutes of instrumental which is so beautiful. ‘Lost’ combined the feeling of depressed yet so hopeless, but covered with a glimmer of relief, happiness which always cross my head by the time I heard it in the long night drive. This song is not only perfect for a late night drive but also good when you are alone in your room with a broken heart, listening this will tear your eyes unintentionally. Yeah, Lost is so powerful for the level of instrumental song. Furthermore what I like from this band is they describe themself in their blog very itemizedly with their own language, so we can visualize this song with our wildiest fantasy while reading their description. This is truly an local post rock song you won’t regret to hear.


Here's the video of 'Lost' below




Where are our sexy little swines this year by the way? It’s been four years since the Sheffield gang released their sophomore yet not so called british album AM and their success turn worldwide ever since. It’s hard to admit it that Arctic Monkeys is going mainstream today. We used to play Fluorescent Adolescent on the senior high school party or farewell and we are fucking proud of that, and singing When the Sun Goes Down when we worry about our crush, etc. These memories couldn’t be taken back as we growing old, as well as Arctic Monkeys do.

Our very own sexy beast, Alex Turner after doing  collaboration with Miles Kane last year with some comercial success, eventually came out with his former band and committed to record a new material at Sheffield. And the latest news told that Arctic Monkeys already finished recording a new album and new single hoped to be released in January 2018. So, what we are talking about right now? Indeed, we always curious how AM sIxth album sounds will be.

 AM is utterly fascinating since each album is not quite the same. Each album has the same vibe except Humbug which is likely to be stand alone because of its darkness and loneliness.  After The Last Shadow Puppets project, maybe some of us predict that sixth album will quite sounds alike with baroque rock TLSP always do. Or psychedelic like Tame Impala Alex used to cover one of their song. Or maybe even worse, added some EDM tune and turn into a full commercial shit. Oh please, no.

And Alex voice is somehow much deeper than he was in the first album but unfortunately he can’t reach high note anymore like he used to, so we can predict in the future concert Alex won’t sing their two first albums any further, which is fucked up(can’t imagine they won’t play I Bet You Look Good On The Dance Floor anymore tho). We can notice his progress in The Last Shadow Puppets’s Les Cactus. He grows mature and maybe his transformation to become a worldwide rockstar will reach his peak in sixth album. So if reflect from his change of voice, we can predict their next album won’t go too far from AM, which sounds so American but added a little change from the music. Moreover, they already confirmed that one of the producer on the next album is James Ford, the one who also produced AM. But no matter it will sound like AM  or not, they will always change as human being and the musician. One thing probably never change is Alex songwriting which is always amazing from beginning till now. So let Arctic Monkeys grow on their own and hoping their sixth album is fascinating as always.


When the entire world is still infected by K-Pop virus and in Indonesia, ‘ukhti-ukhti anyeonghaseo’ still cause some chaos in airport while their idols are barely landed, some talented dorky boys with a fresh music to breath in South Korea starting to shine since these 3 years and now become much bigger and bigger. Hyukoh is their name, obtained from their vocalist named Oh Hyuk. They started as act in underground scene but then 2015 signed for HIGHGRND. HIGHGRND is a sublabel from YG Entertainment which also raised some supergroups like BIGBANG and 2NE1.

23 is the first full album they released to date. 23 refers to their age when this album is released. Oh Hyuk stated on some interview that this album is made for the youth in South Korea who mostly struggling for better life. South Korean youth these days realized that things aren’t getting easier even to  get a job. So Hyukoh dedicate this album for them, therefore 23 contains mixed feeling from misery, depression, solitude, even hope. This album used three languages including Chinese, Korean, and English.

The garage rock vibe in this album is very dence. We can notice some influence from various alternative rock around such as Blur, Arctic Monkeys, etc. The only thing that make them different is an unique and powerful vocal from Oh Hyuk. Some notable tracks in this album are Tokyo Inn, Leather Jacket, Tomboy, Jesus Lived in Motel Room, Wanli, and Surf Boy. Tokyo Inn is the second track which is my personal favourite in this album with a killer intro and Arctic Monkeys’s WPSIATWIN vibe. Then Leather Jacket as a title track from 23. Leather Jacket reminds me to ‘Come and Goes’ which is the most recognizeable song from Hyukoh with faster pace. No wonder Leather Jacket placed as the title track. Next song is Tomboy, which is the most slow paced track in the entire album, but with best vocal performance from Oh Hyuk. Tomboy is so beautiful yet heartbreaking. Next is 2002WorldCup, which refers to their country, if you know a little about football indeed. This song is so much fun, carried up by great instruments and choir in the end. Jesus Lived in a motel room is also a great track and fantastic guitar riff at the end. Next track is Wanli which is likely the only track to be written in Chinese. Wanly also remind me a bit of Knight Of Cydonia from Muse. Wanly is so majestic thus it would be perfect to be 007 movie someday.  Next song is Surf Boy which remind me a bit of the  golden age of Blur. Surf Boy is perfect for your daily tune when facing traffic jam every Monday morning.



Overall, 23 is truly a fresh and decent album as well, indeed. Especially for those being saturated by abundant stock of Kpop songs released every month from various agency but with the same formula(except from YG, hehe). No intention at all to be offensive, but we already know from the review above that Hyukoh offers something different from mostly Kpop artist with their great talent instead of good looking stereotype. So yeah, how can we not love Hyukoh?


Pria berjanggut subur tapi berambut gersang itu tak banyak basa basi. Pembawaannya yang kalem bin menghanyutkan selaras dengan lagu-lagu yang dibawakannya. Sejenak, langit-langit The Establishment terhening, ikut terenyuh dalam nada nada yang dinyanyikan pria tersebut bersama ketiga orang lainnya yang tergabung dalam sebuah band asal Texas, AS dengan nama yang seksi itu.

Cigarettes After Sex namanya. Keempat pria tersebut malam itu mengadakan pertunjukan di The Establishment, Jakarta tanggal 16 Agustus 2017 dalam konser mereka yang pertama kalinya di Indonesia. Pada malam beratapkan langit Jakarta yang penuh polusi saat itu, band beraliran shoegaze ini membawakan lagu-lagu yang bekerja dengan baik di tengah suasana hati yang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang tahu diantara sekian ratus penonton yang hadir disana siapa saja yang datang dengan memikul berjuta masalah dari rumah. Ataupun datang dengan membawa segenggam hati yang remuk diterpa harapan yang tak bertuan. Hanya mereka yang tahu. Satu hal yang pasti semua penonton dengan masalahnya masing-masing, datang untuk menonton dan ber-sing along bersama Cigarettes After Sex untuk sejenak melupakan masalah-masalah yang berhimpun di kepala.


foto:rollingstone(terlalu menikmati konser jadi ga sempat foto, maaf)

Greg Gonzalez dkk membawakan kombinasi antara lagu-lagu di album self titled dan lagu-lagu lamanya. Deretan hits seperti ‘Sweet’, ‘K’, Sunsetz’, ‘Nothing's Gonna Hurt You Baby’, Affection’ dibawakan nyaris tanpa jeda. Sesekali Greg yang tampak grogi di atas panggung mengucapkan terimakasih kepada seluruh penonton. Kualitas audio yang baik di venue dipadukan dengan penghayatan penuh Greg mampu menyalurkan emosi yang terkandung di setiap lagu dengan sempurna ke penonton yang khusyuk memperhatikan penampilan kuartet itu sembari menyanyikan bait demi bait. Beberapa ada yang bernyanyi dengan lantang, dan lainnya cukup mendendangkannya dalam hati, sembari meresapi lirik yang dinyanyikan, beberapa lainnya memulai kontak sentuhan dengan pasangannya, dan ada juga yang meneteskan air mata dalam hening. Lagu-lagu yang bercerita tentang curahan hati dan problematika cinta itu berbaur dengan asap rokok dan aroma anggur merah di udara, menciptakan suasana mellow yang tak terbendung.

Konser selama 1,5 jam kurang itu diakhiri oleh encore ‘Please Don’t Cry’ dan ‘John Wayne’ yang diakhiri tepuk tangan panjang dari penonton. Greg dkk yang dari awal irit sekali bicara ini mengakhiri konser dengan ucapan terimakasih berkali-kali. Penonton yang tidak terima karena set yang kurang lama terus berteriak ‘we want more!’ namun tidak digubris oleh Greg dkk yang langsung turun panggung. Konser yang tergolong singkat namun sangat berkesan. Akhirnya Cigarettes After Sex menutup perjalanan singkatnya di Jakarta dengan ucapan terimakasih yang terakhir kalinya.

Pada hakikatnya, menonton konser bertujuan untuk menghilangkan penat kehidupan sejenak, atau yang ingin membuai diri bersama pasangannya di puncak kebahagiaan, sekaligus meneteskan obat di goresan luka hati yang tak kunjung pudar. Menonton Cigarettes After Sex mampu mengkombinasikan ketiga hal tersebut,sehingga menimbulkan perasaan campur aduk setelahnya. Saya pribadi merasakan efek ini baru dua-tiga hari setelah konser itu. Menonton mereka sangat disarankan terutama bagi jiwa jiwa yang baru patah hati, niscaya sesampainya di rumah akan menangis kejer sambil garuk garuk tanah.

foto: hardrock FM

Jujur saja, ungkapan We The Fest sebagai festivalnya para hipster sejagat nusantara ini konyol sekali. Pasalnya ribuan orang dari berbagai macam latar datang kesini tidak hanya untuk menikmati festival ala-ala Coachella, tapi juga untuk memamerkan segala outfit yang melekat di tubuh mereka demi kepentingan panjat sosial di instagram. Bahkan yang memamerkan outfit seadanya pun banyak, seperti contohnya salah satu cewek yang  hanya memakai dalaman bra plus outer jaket yang sengaja dipakai dengan longgar untuk menonjolkan asetnya. Yang gini gini nih, yang bisa mempertebal iman dan takwa saya kepada Tuhan di tengah-tengah festival ini, sambil mensyukuri betapa indahnya ciptaanNya. Selain itu saya yakin banyak diantara orang-orang ini yang sebenarnya bahkan tidak tahu siapa saja musisi yang akan tampil disini, yang terpenting bisa pamer di Instastorynya untuk membentuk image ‘remaja doyan party’ atau foto di payung warna warni yang ikonik itu. Tapi ya balik lagi ke selera dan tujuan masing-masing, toh mereka sudah bayar tiket yang harganya selangit untuk datang ke festival multi genre besutan Ismaya ini.

Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak penyelenggara, tercatat ada sekitar 50 ribu orang yang hadir dalam tiga hari festival yang diselenggarakan di Jiexpo Kemayoran ,menggantikan venue  tetap sebelumnya yang berlokasi di Parkir Timur Senayan.   Sebuah jumlah yang tidak kecil untuk sebuah festival musik di negara ini. Bapak Presiden Jokowi yang seorang metalhead pun sudah mengendus hal ini dan menyempatkan diri untuk datang langsung ke acara di hari pertama dengan setelan kaos merchandise resmi WTF dan celana panjang. Sontak kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu disambut dengan gegap gempita oleh muda-mudi yang hadir. Entah misi beliau untuk merangkul suara generasi milenial yang demografinya paling menjanjikan saat ini, atau sekadar kunjungan santai saja. Yang jelas kedatangan Jokowi ini menjadi topik utama pemberitaan media massa mengalahkan deretan artis yang tampil di hari pertama.

foto: tribunnews.com

Siang menjelang senja merekah di Jakarta yang sangat terik sabtu itu. Saya membeli tiket early entry 1 day pass pada hari kedua, dimana bercokol nama-nama agung seperti Phoenix dan Lany.Sesampainya di lokasi, saya langsung menonton Barasuara yang berkolaborasi dengan Scaller. Ini adalah kesebelas kalinya saya menonton Barasuara dan rasanya masih sama seperti saat saya pertama kali menonton mereka di Hai Day dua tahun lalu. Bagi Barasuara sendiri, ini adalah penampilan keduanya di WTF setelah gelaran tahun kemarin . Seperti biasa Barasuara dan Scaller bergantian membawakan lagu-lagu terbaiknya di albumTaifun dan Senses. Sayangnya, ini adalah WTF bukan urbangigs, dimana act lokal tidak begitu dihargai seperti di gigs-gigs gratisan itu. Penonton memang lumayan banyak yang hadir, tapi sedikit sekali yang bergoyang mengikuti lagu bertempo upbeat keduanya. Terlepas dari itu, mereka selalu menampilkan yang terbaik seperti biasanya. One of the best local act in the last 3 years, obviously.

Selepas itu, di stage is Bananas yang menjadi satu-satunya stage indoor,penampilan The Adams menunggu. Hadir dengan nostalgia generasi pertengahan 2000-an, The Adams sukses menggerayangi penonton dengan penampilan energiknya selama hampir satu jam. Sebagian besar penonton yang sebenarnya hadir untuk menunggu penampilan selanjutnya yaitu Lany mengangguk-angguk khidmat menikmati nomor bertempo cepat dari Ario cs.  Setelah The Adams kelar, tibalah saatnya headliner malam itu, Lany unjuk gigi. Saat masih setting panggung, crowd tak henti-hentinya meneriakkan Lany, agar mereka cepat muncul ke atas panggung. Sesuai dengan jadwal, Lany akhirnya muncul lalu membawakan lagu-lagu andalan dari album debutnya This Is Lany seperti ‘ILYSB’ dan ‘Good Girl’ serta beberapa lagu lama seperti ‘Where the Hell Are My Friends’ dan lain-lain. Paul, sang vokalis yang punya sex appeal berlebih ini menjadi sasaran ‘tembak’ penonton cewek yang memenuhi This Stage Is Bananas. Secara keseluruhan penampilan Paul cs sangat rapi, dengan sound yang tertata dengan baik. Aksi panggung Paul juga lumayan atraktif, beberapa kali dia beratraksi dengan keyboard dan gitarnya untuk memukau penonton.

dokumentasi pribadi

Di stage sebelah, yaitu WTF Stage, giliran rapper bernama Gnash yang tampil. Meskipun saya tidak hapal satupun lagu Gnash kecuali line ‘i hate you, i love you, i hate that, i love you’ ini, saya memutuskan untuk menonton Gnash sembari menunggu penampil berikutnya yaitu Phoenix. Pada awalnya saya begitu sinis dengan penampilan Gnash, terutama tatanan rambutnya yang menyerupai masteng-masteng  tanah abang, versi bule tentunya. Namun ternyata Gnash mampu menyuguhkan penampilan yang keren, terutama stage presencenya yang memukau bahkan bagi saya yang awam musik Gnash. Dia sangat komunikatif dengan penonton, sehingga semua penonton tanpa terkecuali ikut menyanyikan baris demi baris lirik yang sebelumnya diajarkan dulu oleh Gnash kepada penonton.

Selanjutnya ada penampilan yang paling saya tunggu, yaitu Phoenix. Sekumpulan pria necis yang berkibar di era yang sama dengan kejayaan Daft Punk ini memulai setnya pukul 10 lewat 20 menit malam dengan lagu pembuka di album teranyar mereka, Ti Amo.dilanjut dengan J-Boy dari album yang sama. Pemilihan lagu yang tepat benar-benar berhasil membakar WTF stage dengan goyangan seluruh penonton mengikuti tempo lagu yang bernuansa disko. Selain setlist yang sempurna, yang membuat saya terkagum lagi adalah tata panggung yang sudah diatur sedemikian rupa hingga tampak elok, persis seperti di yang ditampilkan di videoklip J-Boy. Selain itu lighting yang tanpa cacat menjadi sahabat tak terpisahkan bagi penampilan Thomas Mars yang sangat stabil dalam menyanyikan nomor demi nomor, Thomas Hedlund yang tanpa ampun menghajar drumnya dengan tempo luar biasa sepanjang konser, Christian Mazzalai yang memainkan gitarnya dengan kalem tapi mematikan, serta member lainnya yang juga tak kalah energik. Meskipun di awal-awal sound vokal dan bass terdengar balapan, secara keseluruhan penampilan Phoenix jauh di atas kata memuaskan. Lagu-lagu lawas seperti ‘If I Ever Feel Better’ dan ‘Entertainment’ tak lupa dibawakan beserta beberapa lagu dari masterpiece mereka ‘Wolfgang Amadeus Phoenix’. Thomas Mars yang terkagum dengan crowd yang luar biasa, beberapa kali bilang ‘you guys are the best ever!’ atau ‘Terimakasih’ tentu saja dengan aksen Prancisnya yang kental. Di encore, Mars memutuskan untuk berbaur dengan penonton diiringi musik ‘Ti Amo’. Meskipun tidak sampai stage dive, penonton dari depan sampai belakang berkesempatan untuk melihat sangat dekat hingga bersentuhan dengan Mars yang tentu saja dikawal security. Benar-benar penampilan yang luar biasa disuguhkan Mars dkk pada malam minggu itu. Saya dan mungkin banyak penonton lain sepakat Phoenix menjadi penampil terbaik di hari kedua WTF itu.

foto: cosmogirl.co.id

Setelah kericuhan Phoenix berakhir, tibalah giliran Cash Cash untuk menjajal WTF dengan DJ setnya. Walaupun saya merasa janggal dengan adanya DJ set karena membuat festival ini lebih terasa DWP dibanding WTF, tapi saya tetap menikmati penampilan Cash Cash yang menggenjot semangat penonton di tengah malam itu dengan drop-drop yang masif. Namun sayangnya baru setengah penampilan Cash Cash saya sudah dipaksa pulang oleh teman tebengan saya yang sudah terlanjur bete karena hp-nya hilang di tengah-tengah set Daya. Huhu.

Jika diukur dari sisi We The Fest sebagai sebuah festival, saya akui bahwa Ismaya sudah berhasil membuat WTF sebagai sebuah festival seutuhnya. Berbagai suguhan penampilan selain musik juga digelar, lalu ada stand-stand yang unik seperti GoChill yang menyediakan foto 3D yang sedang ngehits, WTF Cinema Club yang menyuguhkan film-film indie bikinan anak negeri, karaoke ria di stand Ruru Radio, Art Village dan stand lainnya. Namun ada satu hal yang menyamakan semua stand di atas dengan segala keunikannya, yakni stand untuk berfoto yang instagramable banget. Pas sekali untuk remaja milenial yang haus akan feed yang penuh estetika. Akhir kata, We The Fest 2017 memuaskan!