Desir Eps 1 #4



Setelah aku merenungkan itu semua beberapa lama,aku akhirnya tersadar bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan apa yang terjadi di penginapan itu. Gayung pun bersambut. Akhirnya, aku pun memberitahu Naya dan Rachel, perihal itu semua. Setelah panjang lebar menjelaskan semua , Rachel dan Naya pun bergerak. Bersama-sama denganku, kami akan bergerak untuk menuntaskan semuanya.

Angin menderu kencang dari ufuk timur. Dalam bahasa sandi Trimanole, itu berarti perintah segera pergi ke arah barat dan temukan gedung berkubah setengah bulat, persis seperti penampakan matahari di pagi hari. Ya, itu hanyalah satu dari sekian banyak kalimat sandi Trimanole yang kami pelajari, dan itu adalah kalimat yang paling kami hafal. 

Sementara itu, nasib salah satu teman kami yang kata Ringo hilang itu, setelah diadakan  penyelidikan dari pihak panitia, dan kami juga, tentu saja secara diam-diam, dia adalah Agastra. Dia baru hilang semenjak kami akan naik bus menuju situs-situs purbakala penting di kota Messina. Setelah itu tidak ada kabar lanjutan darinya. Pihak penyelenggara sudah bolak-balik menelepon orang tuanya maupun Agasnya sendiri, tapi nihil, tidak ada hasil.

Kami sendiri, sudah mengecek dan meneliti kamarnya, dan kami tidak menemukan apapun. Yang ada kami hanya menemukan coretan-coretan di dinding kamar itu. Setelah kami merangkaikan beberapa kata itu, kami mendapatkan beberapa kalimat sebagai berikut.

1.       Pasir putih. Janet Florine, rambut hitam dan wangi, kasat mata
2.       Failure comes from failed fail
3.       Laughing My Fu*kin’ Ass Off

Dan lain-lain. Hanya itu saja yang jelas, karena coretan-coretan lainnya sama sekali tak  bisa dibaca. Aku mencatat semuanya di buku harian. Dari sekian banyak kata-kata itu, ada satu nama yang sangat mencolok bagiku, yaitu Janet Florine. Siapa gerangan kah orang itu? Atau itu hanya sebuah kata sandi Trimanole?

‘Hmm...Menurutku, Janet Florine itu tokoh fiksi. Justru yang penting itu adalah kalimat ‘Laughing my fuckin’ ass off’ itu loh.’ , komentar Naya saat membaca catatanku.
‘Oke. Jika itu pendapatmu. Aku percaya kok.’

‘Ehm. Tadi kamu menyebut nama saya ya? Ada kepentingan apa ya, mas?’, perempuan misterius itu tiba-tiba menepuk pundak saya. Dia memakai hoodie hitam, sehingga mukanya hampir tidak kelihatan sama sekali. Perawakannya tinggi, kulitnya putih. Suaranya berat dan parau, hampir seperti kelaki-lakian.

‘Ya ampun. Andakah Janet? Anda siapanya Agas ya?’ , tanya Naya ke perempuan itu.
‘Ya, aku memang Janet Florine. Dan Agas adalah pacarku. Memangnya kenapa?’,
Ohmygod. Doi adalah pacarnya. Aku punya ide cemerlang. Lalu, aku berikan catatan itu ke dia. Dengan cepat, dia langsung menanggapinya.

'Hmmm....aku tahu persis kalimat kedua dan ketiga. Ini adalah kalimat sandi Trimanole yang artinya.....'

Dia mendadak menghentikan kalimatnya. 'Artinya,  telah menculik dia, dan berinisial LM dan FAO, sekarang dia berada di restoran.'

0 komentar:

Post a comment