Lagu yang terakhir


‘EAAAA! Giliran ada cewek bening lewat aja lo konsen! Giliran gue manggil lo gak pernah nanggepin!!’ Seruku pada Tito, teman dekatku yang memang sifat aslinya seperti itu.

Merasa tak terima, dia pun membalas, ‘Yeeee…..Enak aja!! Aku ngeliatin dia tuh, karena emang bodynya seksoy banget getoo….Seksi nan asoy!!!’

‘EMANG ENAK, KENEK ANGKOT!!! Jangan bisanya cuma ngemodusin doang. Ajak ngobrol kek, makan kek, nonton kek. Lah, ente bise apee???!!!’

Ya, dia memang seorang cowok yang sangat pemalu, kalau tidak bisa dibilang pengecut. Bayangkan saja, setiap hari, kalau si cewek itu lewat, pasti dia langsung menatapnya dalam-dalam dengan tatapan yang nggak banget. Tatapan, yang mengingatkanku pada kenek angkot yang biasa mangkal di jalan-jalan raya itu loh. Setiap kali ada cewek bening lewat, pasti mereka langsung melototin, bahkan dibarengi dengan siulan menjijikkan itu, ‘Suitsuiww!!’ atau panggilan yang mengerikan  itu, ‘Cewekk!! Naik yu!!’, sambil mengibas-ngibaskan handuk yang biasa nangkring di bahunya. Nggak banget gitu lho.

Makanya, aku sering memanggilnya ‘cowok kenek angkot’, karena memang sikapnya seperti demikian. Perbedaannya, dia sama sekali tidak berani kalau disuruh ngobrol saja, bahkan untuk meminta contekan PR sekalipun. Mentok-mentok, beraninya cuma orgasme habis melihat si dia pakai baju dan rok mini. Dia memang lebih berbakat menjadi om-om senang, ketimbang jadi cowok playboy.

Padahal, dia itu tidak jelek. Bahkan, jauh lebih ganteng daripada aku. Dia juga pintar, khususnya di Matematika. Apalagi, dia juga jago banget main piano. Waktu dia main four elise itu lho, bener-bener bikin merinding semua cewek yang ada di kelas, bahkan aku sendiri. Dia juga jago olahraga, dan rajin sholat. So ,apa yang kurang dari dia?


 


Hari Rabu itu, seperti biasa aku pergi ke sekolah. Semuanya memang terlihat biasa-biasa saja. Si Tito, cowok kenek angkot itu pun, seperti biasa duduk di samping aku. Dan, seperti biasa pula, saat si cewek itu lewat, Danny pun meringkuk , menutupi seluruh mukanya dengan tangan, dan hanya menyisakan kedua mata yang menatap si cewek lewat dengan anggunnya, tentu saja dengan tatapan penuh nafsu.

Aku, yang melihat kejadian itu, langsung menepuk pundak Tito dan berkata, ‘Jadi, ente suka ya sama dia? Gini aja deh, biar enak, gue contohin gimana caranya ngedeketin dia. Menurut analisis dampak lingkungan gue, dia suka tipe cowok yang tetenya gede sebelah. Oke, tadi gue ngelawak. Jadi, dia sukanya cowok yang tau banyak hal, dan perhatian.’

Dia masih bengong ngeliatin tuh cewek. Ternyata, cewek itu telah mengubah dunianya, bahkan sampai tak menyadari bahwa he has lost himself.

‘WOY! LO DENGER GA SIH??!!’ Aku mengguncang-guncangkan tubuh Tito. ‘Elo tuh ya, ga dari dulu gak berubah-ubah.’


‘Hah? Iya dari tadi aku juga ngedengerin laah!’ , akhirnya dia sadar juga.

‘OH. Jadi, yang tadi gue omongin apa?’

‘Jadi, dia tuh sukanya cowok yang tetenya gede sebelah.’

‘EEH ,GOBLOK LO. Yang itu kan gue bercanda, tilil. Yang bener tuh, dia sukanya cowo yang tahu banyak. Nah, lo kan jago musik. Ajak ngobrol dia aja tentang musik, yang gitu-gitu lah. Ngerti kan?’ , sekali lagi aku menepuk pundak Tito.

‘Ta-tapi, aku gak berani, ki.’ , jawab dia lemah.

‘Payah lo. Ntar, malah gue yang dapet dia duluan. Hahahaha!’
‘Bodo ah.’


 


Esoknya, aku masuk sekolah seperti biasa. Kini, aku berhasrat untuk menghentikan ulah si Tito pada si cewek itu, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tau lah, yang biasa cowok  lakukan pada cewek. Apalagi masih SMP begini.

Nah, aku mulai dengan cara sederhana, ajak ngobrol si cewek, terus nyambung-nyambungin sama si Tito, terus nyambung deh. Simpel, sederhana ,mantap.

Waktu berjalan seperti biasa. Saat bel ganti pelajaran berbunyi, kita moving ke lantai bawah. Saat itulah si dia sedang bersenandung, menyanyikan lagu yang sangat kukenal. OH. Itu kan lagunya Incubus yang I Miss U. Salah satu lagu paling deep yang pernah ku dengar. Karena insting sok tahunya mulai keluar, maka aku pun menghampiri kursinya.

‘See you when I wake up…..’ , dia masih nyanyi dengan liarnya.

Aku pun langsung duduk di sebelah dia, dan melanjutkan reff-nya.

‘You do something to me, that I can’t….explain…’ 

‘Oh, kamu tahu lagu itu? Wah, asik juga kamu.’ , dia memulai pembicaraan.

‘Hahaha…iya dong. Itu lagu paling keren yang pernah Incubus keluarin.’

‘Wah iya? Emangnya Incubus udah punya berapa album? Itu lagu terbarunya kan?’

‘HAH? Lagu terbaru? Itu kan dirilisnya tahun 1999. Bareng single lain kayak Drive, dan lain-lain!’
‘Waah iya? Kamu tahu banyak lagu ya? Kalo gitu, kasih tau aku lagu galau yang lainnya juga doong!’, ucap dia sembari memancarkan senyum mautnya, senyum manis yang luar biasa, seolah-olah dia adalah bidadari di iklan Axe. Nggak, dia lebih cantik, dan lebih maniis tentunya… Ya Tuhan, aku pun sampe salting mau ngomong apa lagi. Hingga detik ini, aku mau melibatkan si Tito dalam obrolan ini dengan mengatakan, ‘Eh tau gak, si Tito bisa mainin gitar sama pianonya lho, jago banget!!’. Tapi, tak tahunya,

‘Oooh…jadi Deki (aku) suka sama Incubus ya?’, dia berteriak dengan sinis, dan sok tahu tentunya.

Dia ngelanjutin, ‘Dih…band dari planet mana itu Incubus? Engga pernah denger tuh! Bagusan juga Peterpan!!’ , dengan gobloknya malah menghina Incubus, yang otomatis menghina dia sendiri di hadapan si cewek.

‘IH…APAAN SIH! Dan, ngapain kamu ikut-ikutan sih?! Kayak yang tahu aja Incubus itu apa! Sana ah, ngeganggu orang ngobrol aja!’, tiba-tiba si cewek menghardik Tito dengan nada yang sama.
Tito diam. Aku pun diam. 

Aku, seperti sudah ditebak, cekikikan dalam hati,ngeliatin Tito yang malu abis, dihajar secara verbal oleh kecengannya sendiri. Oh, well. Shit happens!

Oh tuhan, betapa bodohnya temanku ini. Tito..Tito.

Bersambung


Next Post:

Lagu yang terakhir Bag 2
.








0 komentar:

Post a comment