Sabang, Utopia di Ujung Terbarat Dwipantara

Sore di Titik 0 kilometer, Sabang

Sayup sayup paduan suara terdengar parau namun begitu merasuk sanubari di hadapan sang merah putih, menyanyikan sebuah bait demi bait, merenungkan betapa luasnya tumpah darah anak cucu negeri ini. Petikan “Dari Sabang Sampai Merauke, berjajar pulau-pulau” selalu membuat kita bangga bahwa negeri yang kita pijak ini begitu luas terentang sampai ribuan kilometer, diapit dua benua dan dua samudera, namun tetap mengaku satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Lalu timbul sebuah pertanyaan yang mengambang di kepala sedari kecil. Seberapa jauh sih Sabang? Seberapa timur sih Merauke? 


Pantai Iboih


Sebagai prolog, Sabang adalah kota terbesar yang berada di Pulau We, di ujung barat provinsi Aceh, sekitar 14 km dari Banda Aceh. Untuk menyeberang dari Banda Aceh ke Sabang bisa lewat pelabuhan Ulee Lheue, 20 menit dari pusat Banda Aceh. Ada dua alternatif, kapal feri konvensional dan kapal cepat, namun sebenarnya perbedaan yang signifikan hanya soal harga, jadi saya sarankan lebih baik pakai kapal feri biasa dengan jarak 2 jam sekali pergi.

Sabang yang selamat dari amukan tsunami 2004 silam akibat benteng bawah laut alami di sekitarnya ini menjanjikan pantai-pantai pasir putih yang mengilap(katanya) dan yang paling utama adalah sensasi menginjakkan kaki di ujung terbarat nusantara.

Titik 0 Kilometer


Disana saya menginap di Rade Inn, di daerah Sumur Tiga yang merupakan salah satu destinasi pantai favorit di Sabang. Harga per malamnya adalah 300 ribu. Ada beberapa homestay lain yang muncul di Traveloka, hanya saja saya sangat merekomendasikan Rade Inn ini karena dekat kemana-mana(kecuali ke Titik 0) dan tempatnya sangat nyaman untuk beristirahat dengan harga yang terjangkau.

Pantai Pasir Putih

Pertama kalinya menginjakkan kaki disini, Bayangan saya tentang Sabang tak bisa lepas dari kota penting pada masa Perang Dunia II, karena sempat dijadikan Jepang sebagai penyangga Singapura yang dulu merupakan pusat komando Jepang di Asia Tenggara saat itu. Terbukti dari banyaknya benteng maupun bunker yang tersebar di seantero Sabang yang bertahan kokoh sampai sekarang ini. 

Sabang struktur pulau berbukit-bukit, beda jauh dari bayangan awal Sabang sebagai pulau melulu dataran rendah dengan pantai sebagai objek utama. Sehingga sudah paling pas untuk menyewa motor atau mobil untuk touring keliling pulau semau kita. Harga sewa motor per harinya 150 ribu rupiah, termasuk harga standar untuk ukuran destinasi wisata. 

Pantai Sumur Tiga


Untuk destinasi-destinasi kunjungan biasa, biaya masuknya termasuk murah untuk ukuran tempat wisata normal, karena setiap objek dikenakan biaya maksimum sampai 5000, kecuali saat snorkeling di pantai Iboi, biaya sewa untuk peralatannya kisaran 100 ribu sampai 200 ribu. 

Setelah uraian tentang pengalaman di Sabang, ini saya rasa bagian terbaik dari travelling atau berpergian jauh adalah membuka landskap pengetahuan kita selebar-lebarnya, bahwa kita tak pernah benar-benar hidup sendirian di dunia ini. Selalu ada cara untuk bertemu orang baru, dan selalu memperbarui peta pemikiran kita tentang manusia, seperti yang dibilang Kierkegaard tentang intersubjektivitas manusia sebagai subjek yang membutuhkan individu lainnya untuk hidup.

Landskap Kota Sabang

Sabang memang tidak terlalu mewah seperti di Sumbawa atau Lombok. Namun percayalah, menginjakkan kaki di ujung terbarat Indonesia adalah salah satu pengalaman yang tak boleh dilupakan untuk menyerapi makna lagu nasional Sabang sampai Merauke itu . Dan dengan semakin sering alarm peringatan bencana berbunyi kencang di seantero titik-titik berbahaya di Tanah Air, kita pun jadi lebih mengetahui tentang apa saja destinasi wisata yang ternyata potensial jadi episentrum bencana, seperti misalnya saya baru mendapat kiriman video dari teman saya ternyata air laut di Sabang sedang naik, padahal baru saja pulang dari sana seminggu lalu. Semoga negeri kita baik-baik saja, dan senantiasa dalam pelukan Tuhan sampai akhir zaman.


disclaimer: semua foto disini adalah dokumentasi pribadi saya dan beberapa dari  teman saya.

0 komentar:

Post a Comment