Review Film: Insidious Chapter 3(2015)

Semakin suksesnya sebuah film, maka semakin kuat tendensi pembuatnya untuk membuatkan seri sekuelnya atau prekuelnya. Yang menjadi target tentu saja film lanjutannya harus sesukses atau melebihi film pertamanya. Dan yang jadi pertanyaannya adalah apakah film lanjutannya tersebut bisa menyamai kualitas film pertamanya tanpa mengabaikan sisi kesinambungan ceritanya?


Insidious Chapter 3 menceritakan sesaat sebelum Elise Rainier (Lin Shaye) tewas dan menjelma menjadi hantu gentayangan dan meneror beberapa orang. 

Saat masih hidup, Elise adalah seorang paranormal yang dimintai pertolongan untuk melakukan komunikasi dengan roh orang yang sudah mati. Tujuan komunikasi tersebut adalah untuk membantu seorang gadis (Stefanie Scott) yang diteror oleh roh jahat. Namun tanpa diketahui sebabnya, Elise menjadi ragu untuk menggunakan kekuatan supranaturalnya itu. 

Insidious Chapter 3 tidak lagi disutradarai oleh James Wan, melainkan oleh Leigh Whannel. Kini James Wan berperan sebagai produser. Jujur saja, semenjak mengetahui bahwa Insidious 3 tidak lagi dibesut oleh Wan, saya sedikit pesimis tentang kualitas film ini. Seperti yang kita tahu, James Wan sudah teruji kehebatannya dalam membesut film horror , sebut saja kedua film Insidious( walaupun saya cukup kecewa dengan film keduanya) dan si fenomena The Conjuring, yang kini menjadi tolok ukur bagaimana sebuah film horror dapat dikatakan bagus atau tidak. Namun, anggapan awal  itu buyar ketika trailer resminya dirilis di Youtube. Setelah menonton trailer dengan durasi satu setengah menit itu saya menjadi yakin bahwa Insidious Chapter 3 akan menjadi film yang terbaik dibanding dua film sebelumnya, sesuai dengan tagline yang diusung, ‘The Darkest Chapter Will Goes Back to Beginning’. Hmm..menarik bukan?



Dan pada kenyataannya, Insidious Chapter 3 benar-benar gagal. Bukan saja gagal untuk menyamai level seramnya Chapter 1 dan 2, tapi Chapter 3 juga gagal total dalam segi cerita.Dari alur hingga ending semuanya terasa janggal jika dihubungkan dengan dua film sebelumnya.Dan, entah kenapa Chapter 3 seakan mengulangi kesalahan yang dilakukan di Chapter 2, diantaranya setan yang terlalu sering dimunculkan(mirip film-film Indonesia),  dan komedi yang lagi-lagi dibawakan oleh dua pengusir hantu idiot Tucker(Angus Sampson) dan Specs(Leigh Whannel) yang tidak penting, bukan saja memberi banyak waktu bagi penonton untuk ‘bernafas’, tapi juga menjadi tidak sinkron dengan film secara keseluruhan.Lalu, mengapa filmnya bisa seburuk itu padahal trailernya sangat menarik? Ya, tidak diragukan lagi, Insidious Chapter 3 adalah contoh sempurna bagaimana trailer yang bagus dapat menipu penonton. Setelah film usai saya baru menyadari bahwa trailer satu setengah menit itu sudah menggambarkan semua adegan terseram dalam film. Oke, beberapa orang bakal membanding-bandingkan Chapter 3 dengan The Conjuring. Tapi, please, jangan jauh-jauh dibandingkan dengan awesome-nya The Conjuring. Cukup bandingkan dengan Chapter 1 dan Chapter 2, dan jelas Chapter 3 merupakan yang terburuk bahkan jika dibandingkan dengan Chapter 2 yang juga cukup mengecewakan bagi saya.


Oke, sepertinya saya sudah kehabisan kata-kata untuk mencaci-maki film ini, karena poin utamanya sudah tersampaikan. Setidaknya, ini menjadi pelajaran bagi saya dan teman-teman pembaca untuk jangan terlalu percaya dengan trailer yang menarik. Sesuai dengan pepatah ‘Don’t judge film by its trailer’. Dan setelah membuang-buang duit untuk menonton film ini, saya masih berharap setidaknya ada satu film Hollywood yang dapat menyamai level The Conjuring. Entah itu Sinister 2, atau malahan The Conjuring 2 yang akan tayang 2016 nanti. Mungkin.

0 komentar:

Post a comment