Cutting Edge #3: Si Otak Pincang Namun Encer Bernama Lamebrain




Saya sudah lama sebenarnya ingin membahas soal band ini. Sebuah trio heavy rock asal Bandung yang namanya sudah cukup harum di ranah underground kota kembang sejak 2013 lalu. Tapi sebelumnya saya ingin bercerita soal band legendaris yang menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam jagat musik, terutama dalam musik rock. Ya, mereka adalah Led Zeppelin.

Robert Plant dan kolega telah memberikan banyak influence bagi kebanyakan band rock di semua belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia, dari jaman 80-an hingga kini. Trendmark Jimmy Page yang mengandalkan riff-riff gitar yang berat dan gebukan bertenaga dari  John Bohnham serta iringan bass elegan ala John Paul Jones senantiasa berkibar abadi sampai sekarang.



stereosnapid


Di Indonesia sendiri, band-band yang terpengaruh Led Zeppelin cukup banyak(untuk selanjutnya kita pakai istilah Led Zeppelin-esque). Kita singgung satu saja, yang paling terkenal sampai sekarang yaitu THE SIGIT. Band inilah yang disebut-sebut kritikus musik nasional sebagai penyelamat atau pembangkit rock n roll nusantara yang sudah cukup lama mati suri. THE SIGIT pada awalnya lebih dulu terkenal di Australia atau USA, namun beberapa tahun belakangan THE SIGIT rajin manggung di gigs lokal sehingga namanya semakin semerbak, terutama di kota kembang. Disini tidak akan membahas secara detail soal THE SIGIT, karena fokus kita adalah sebuah band yang lahir dari rahim kota yang sama dengan genre yang serupa tapi tak sama, bernama Lamebrain.

Trio ini digawangi oleh Alan Davison di vokal dan gitar, Mufti Mujtahid di bass dan Pramaditya Azhar di drum. Untuk sang vokalis bernama Alan Davison, saya punya kisah unik sendiri. Awal perkenalan saya dengan Lamebrain bermula dari seorang teman yang rajin memposting tentang Lamebrain di Path-nya. Karena penasaran, akhirnya saya mencari-cari lagu Lamebrain. Karena bagus, saya kemudian mencari tahu personelnya. Pencarian saya sampai di Instagram resmi Lamebrain yang sering memposting muka-muka personil Lamebrain. Disitu ada satu muka yang ternyata familiar, dia adalah vokalisnya dengan penampilan urakan dan gitar ditangannya. Saya langsung teringat dengan kakak kelas di SMP bernama Davis, yang juga dulu aktif ngeband dan sering main di pensi SMP. Sial, ternyata dia orang yang sama. Bedanya, kini rambutnya keren dan skill bergitarnya makin kece. Oke, cukup perkenalan kita dengan Alan Davison.



Sejauh ini Lamebrain sudah merilis satu EP berjudul Overpower dan dua single berjudul ‘Mojo’ dan’Yo Mama Fool’. Diatas kita sudah menyinggung soal arus Led Zeppelin-esque. Lamebrain adalah suatu karang dalam arus Led Zeppelin-esque yang terus-menerus diterpa arus,  dan seiring karang itu terlarung dalam arus, dia semakin lama semakin kuat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.  Lamebrain memang terpengaruh kuat oleh arus itu, tapi mereka mampu menciptakan cita rasa sendiri yang kuat di setiap lagunya. Di dunia ini pasti ada saja orang yang selalu mempermasalahkan influence sang musisi, sebagus apapun lagu tersebut diciptakan. ‘Ah, band ini mah niru si itu lah, blabla, dll’. Namun untuk Lamebrain, mohon untuk singkirkan pikiran-pikiran itu. Saya adalah tipe pendengar yang bodo amat terhadap influence suatu band yang sedang didengar. Selama itu enak di kuping, ya bagus.  




Riff-riff gitar yang berat menjadi kunci dari lagu-lagu Lamebrain. Hasilnya, selama seminggu terakhir ini playlist laptop tak pernah lepas dari Lamebrain, terutama bolak-balik antara Overpower, Mojo, dan Light(bisa dilihat di playlist Soundcloud saya). Soal skill per personilnya, tak perlu diragukan lagi. Di setiap gig yang pernah disambangi, Lamebrain selalu bermain improvisasi, sehingga setiap lagu durasinya bertambah dari enam hingga sembilan menitan.

Disamping musiknya yang gahar dan mengentak-entak, ada satu hal yang terasa mengganggu. Yaitu warna vokal Davis. Davis terkesan agak memaksakan suaranya untuk menjadi serak ala Rekti atau Robert Plant. Dan disetiap panggung pun, dia terlihat tidak menikmati saat bagian vokal. Untuk seterusnya, contohlah The SIGIT, karena mereka mengalami hal yang sama di EP pertamanya. Sadar akan kekurangannya, Rekti mencoba belajar banyak untuk vokal dan hasilnya bisa kita lihat sendiri.  Sebuah saran untuk Davis dan untuk Lamebrain kedepannya, karena Lamebrain adalah potensi yang sangat besar, semoga tetap konsisten berkarya untuk selanjutnya.


0 komentar:

Post a comment