Review Film: Hacksaw Ridge(2016)


christian post

Film bertemakan perang dengan bumbu kisah nyata yang pilu didalamnya memang sudah umum diproduksi di ranah Hollywood. Termasuk untuk film berjudul Hacksaw Ridge ini. Film besutan Mel Gibson ini berlatarkan Perang Dunia 2 di kontinental Pasifik, antara Jepang melawan Sekutu. Jujur saja, satu-satunya daya tarik bagi saya untuk menyaksikan film ini adalah perkembangan akting dan wajah Andrew Garfield. Semenjak The Amazing Spiderman, saya masih terkejut dengan wajah Andrew yang awet remaja padahal umurnya sudah menginjak 30 tahun waktu itu. Termasuk pendalaman karakternya yang cenderung kekanak-kanakan itu. Bagaimana jadinya dengan perannya yang serius nan sakral di film heroik yang diangkat dari kisah nyata ini?

Hacksaw Ridge bercerita tentang kejadian seputar pertempuran di pengujung Perang Dunia 2 di wilayah Pasifik. Pertempuran itu meledak di pulau Okinawa, benteng terakhir Jepang di Pasifik dalam membendung gerakan pasukan Sekutu yang terus menggulung bagai ombak samudra. Dengan semangat tak takut mati, Jepang mengerahkan segenap tenaga untuk mempertahankan pulau itu dari serangan ratusan ribu pasukan Sekutu. Di sisi lain, Sekutu yang punya pasukan lebih besar dan armada lebih canggih dari Jepang pun tanpa lelah terus menggempur pulau itu dengan segenap daya. Lokasi pertempuran paling sengit dan berdarah-darah terletak di bukit Hacksaw dimana pasukan Sekutu yang berkali-kali berusaha mendaki untuk merebut bukit itu, berkali-kali pula dipukul mundur pasukan Jepang yang kesetanan. Ditengah hiruk pikuk pertempuran, seorang paramedis muda dan ceking bernama Desmond Doss(Andrew Garfield)  menerobos desingan peluru dan serpihan bom untuk menyelamatkan tubuh teman-temannya yang terluka. Mampukah Desmond menyelesaikan misinya ini, ataukah dia akan gagal bersama dengan tentara-tentara yang gugur dalam perang itu?


screen rant



Film perang rata-rata memang mempunyai ending yang klise, mudah ditebak. Pemeran utama selalu dicitrakan sebagai sosok heroik dengan segala atribut romantismenya. Namun di film ini yang membuat saya terkagum-kagum sampai sekarang adalah properti dan latar di seluruh film, begitu pas dengan suasana perang yang sesungguhnya.  Entah dari tone pakaian dan riasan setiap pemainnya, vibe langit di tengah perang yang begitu kelam, dan hal-hal paling kecil sekalipun seperti mobil, telepon, dan perlengkapan lain semuanya dipoles persis seperti apa yang kita baca di buku-buku tentang perang dunia 2. Semua hal itu membuat saya teralihkan dari fokus saya sebelum menonton film ini, yaitu melihat progress ‘pendewasaan’ seorang Andrew Garfield.  Dan, dia melakukannya dengan baik. Dia mampu memerankan dengan baik seorang Desmond, bocah kurus yang menjadi korban bully teman-temannya selama pelatihan wajib militer yan kemudian mampu keluar sebagai sosok pahlawan yang tak diduga-diduga. Klise memang, tapi eksekusi yang mulus serta sinematografi yang baik membuat kita melupakan sisi minor  film ini. Penderitaan yang  menjadi ironi dari semua peperangan di muka bumi ini digambarkan dengan begitu syahdu, detail bagaimana baik pasukan Sekutu dan pasukan Jepang yang sama-sama haus darah ingin segera menghabisi lawannya sesegera mungkin, namun disisi lain mereka sama-sama menanggung penderitaan yang tak berujung. Melihat teman disampingnya gugur ditembus peluru kasar manusia-manusia polos yang dikendalikan ambisi dan ego tak berujung pemimpinnya untuk menandingi kebesaran Tuhan di muka bumi. Semua digambarkan dengan begitu baik dan menyentuh. Hubungan penuh kerikil tajam antara Desmond dan Dorothy pun digulirkan dengan ringan di sepanjang film tanpa mengganggu kerangka utama film. Racikan pas untuk sebuah film perang berkedok motivasi yang diangkat dari kisah nyata ini. Selamat menyaksikan!

0 komentar:

Post a comment