Napak Tilas #WTF17 Day 2: Seremonial Puncak Remaja Milenial Ibukota

foto: hardrock FM

Jujur saja, ungkapan We The Fest sebagai festivalnya para hipster sejagat nusantara ini konyol sekali. Pasalnya ribuan orang dari berbagai macam latar datang kesini tidak hanya untuk menikmati festival ala-ala Coachella, tapi juga untuk memamerkan segala outfit yang melekat di tubuh mereka demi kepentingan panjat sosial di instagram. Bahkan yang memamerkan outfit seadanya pun banyak, seperti contohnya salah satu cewek yang  hanya memakai dalaman bra plus outer jaket yang sengaja dipakai dengan longgar untuk menonjolkan asetnya. Yang gini gini nih, yang bisa mempertebal iman dan takwa saya kepada Tuhan di tengah-tengah festival ini, sambil mensyukuri betapa indahnya ciptaanNya. Selain itu saya yakin banyak diantara orang-orang ini yang sebenarnya bahkan tidak tahu siapa saja musisi yang akan tampil disini, yang terpenting bisa pamer di Instastorynya untuk membentuk image ‘remaja doyan party’ atau foto di payung warna warni yang ikonik itu. Tapi ya balik lagi ke selera dan tujuan masing-masing, toh mereka sudah bayar tiket yang harganya selangit untuk datang ke festival multi genre besutan Ismaya ini.

Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak penyelenggara, tercatat ada sekitar 50 ribu orang yang hadir dalam tiga hari festival yang diselenggarakan di Jiexpo Kemayoran ,menggantikan venue  tetap sebelumnya yang berlokasi di Parkir Timur Senayan.   Sebuah jumlah yang tidak kecil untuk sebuah festival musik di negara ini. Bapak Presiden Jokowi yang seorang metalhead pun sudah mengendus hal ini dan menyempatkan diri untuk datang langsung ke acara di hari pertama dengan setelan kaos merchandise resmi WTF dan celana panjang. Sontak kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu disambut dengan gegap gempita oleh muda-mudi yang hadir. Entah misi beliau untuk merangkul suara generasi milenial yang demografinya paling menjanjikan saat ini, atau sekadar kunjungan santai saja. Yang jelas kedatangan Jokowi ini menjadi topik utama pemberitaan media massa mengalahkan deretan artis yang tampil di hari pertama.

foto: tribunnews.com

Siang menjelang senja merekah di Jakarta yang sangat terik sabtu itu. Saya membeli tiket early entry 1 day pass pada hari kedua, dimana bercokol nama-nama agung seperti Phoenix dan Lany.Sesampainya di lokasi, saya langsung menonton Barasuara yang berkolaborasi dengan Scaller. Ini adalah kesebelas kalinya saya menonton Barasuara dan rasanya masih sama seperti saat saya pertama kali menonton mereka di Hai Day dua tahun lalu. Bagi Barasuara sendiri, ini adalah penampilan keduanya di WTF setelah gelaran tahun kemarin . Seperti biasa Barasuara dan Scaller bergantian membawakan lagu-lagu terbaiknya di albumTaifun dan Senses. Sayangnya, ini adalah WTF bukan urbangigs, dimana act lokal tidak begitu dihargai seperti di gigs-gigs gratisan itu. Penonton memang lumayan banyak yang hadir, tapi sedikit sekali yang bergoyang mengikuti lagu bertempo upbeat keduanya. Terlepas dari itu, mereka selalu menampilkan yang terbaik seperti biasanya. One of the best local act in the last 3 years, obviously.

Selepas itu, di stage is Bananas yang menjadi satu-satunya stage indoor,penampilan The Adams menunggu. Hadir dengan nostalgia generasi pertengahan 2000-an, The Adams sukses menggerayangi penonton dengan penampilan energiknya selama hampir satu jam. Sebagian besar penonton yang sebenarnya hadir untuk menunggu penampilan selanjutnya yaitu Lany mengangguk-angguk khidmat menikmati nomor bertempo cepat dari Ario cs.  Setelah The Adams kelar, tibalah saatnya headliner malam itu, Lany unjuk gigi. Saat masih setting panggung, crowd tak henti-hentinya meneriakkan Lany, agar mereka cepat muncul ke atas panggung. Sesuai dengan jadwal, Lany akhirnya muncul lalu membawakan lagu-lagu andalan dari album debutnya This Is Lany seperti ‘ILYSB’ dan ‘Good Girl’ serta beberapa lagu lama seperti ‘Where the Hell Are My Friends’ dan lain-lain. Paul, sang vokalis yang punya sex appeal berlebih ini menjadi sasaran ‘tembak’ penonton cewek yang memenuhi This Stage Is Bananas. Secara keseluruhan penampilan Paul cs sangat rapi, dengan sound yang tertata dengan baik. Aksi panggung Paul juga lumayan atraktif, beberapa kali dia beratraksi dengan keyboard dan gitarnya untuk memukau penonton.

dokumentasi pribadi

Di stage sebelah, yaitu WTF Stage, giliran rapper bernama Gnash yang tampil. Meskipun saya tidak hapal satupun lagu Gnash kecuali line ‘i hate you, i love you, i hate that, i love you’ ini, saya memutuskan untuk menonton Gnash sembari menunggu penampil berikutnya yaitu Phoenix. Pada awalnya saya begitu sinis dengan penampilan Gnash, terutama tatanan rambutnya yang menyerupai masteng-masteng  tanah abang, versi bule tentunya. Namun ternyata Gnash mampu menyuguhkan penampilan yang keren, terutama stage presencenya yang memukau bahkan bagi saya yang awam musik Gnash. Dia sangat komunikatif dengan penonton, sehingga semua penonton tanpa terkecuali ikut menyanyikan baris demi baris lirik yang sebelumnya diajarkan dulu oleh Gnash kepada penonton.

Selanjutnya ada penampilan yang paling saya tunggu, yaitu Phoenix. Sekumpulan pria necis yang berkibar di era yang sama dengan kejayaan Daft Punk ini memulai setnya pukul 10 lewat 20 menit malam dengan lagu pembuka di album teranyar mereka, Ti Amo.dilanjut dengan J-Boy dari album yang sama. Pemilihan lagu yang tepat benar-benar berhasil membakar WTF stage dengan goyangan seluruh penonton mengikuti tempo lagu yang bernuansa disko. Selain setlist yang sempurna, yang membuat saya terkagum lagi adalah tata panggung yang sudah diatur sedemikian rupa hingga tampak elok, persis seperti di yang ditampilkan di videoklip J-Boy. Selain itu lighting yang tanpa cacat menjadi sahabat tak terpisahkan bagi penampilan Thomas Mars yang sangat stabil dalam menyanyikan nomor demi nomor, Thomas Hedlund yang tanpa ampun menghajar drumnya dengan tempo luar biasa sepanjang konser, Christian Mazzalai yang memainkan gitarnya dengan kalem tapi mematikan, serta member lainnya yang juga tak kalah energik. Meskipun di awal-awal sound vokal dan bass terdengar balapan, secara keseluruhan penampilan Phoenix jauh di atas kata memuaskan. Lagu-lagu lawas seperti ‘If I Ever Feel Better’ dan ‘Entertainment’ tak lupa dibawakan beserta beberapa lagu dari masterpiece mereka ‘Wolfgang Amadeus Phoenix’. Thomas Mars yang terkagum dengan crowd yang luar biasa, beberapa kali bilang ‘you guys are the best ever!’ atau ‘Terimakasih’ tentu saja dengan aksen Prancisnya yang kental. Di encore, Mars memutuskan untuk berbaur dengan penonton diiringi musik ‘Ti Amo’. Meskipun tidak sampai stage dive, penonton dari depan sampai belakang berkesempatan untuk melihat sangat dekat hingga bersentuhan dengan Mars yang tentu saja dikawal security. Benar-benar penampilan yang luar biasa disuguhkan Mars dkk pada malam minggu itu. Saya dan mungkin banyak penonton lain sepakat Phoenix menjadi penampil terbaik di hari kedua WTF itu.

foto: cosmogirl.co.id

Setelah kericuhan Phoenix berakhir, tibalah giliran Cash Cash untuk menjajal WTF dengan DJ setnya. Walaupun saya merasa janggal dengan adanya DJ set karena membuat festival ini lebih terasa DWP dibanding WTF, tapi saya tetap menikmati penampilan Cash Cash yang menggenjot semangat penonton di tengah malam itu dengan drop-drop yang masif. Namun sayangnya baru setengah penampilan Cash Cash saya sudah dipaksa pulang oleh teman tebengan saya yang sudah terlanjur bete karena hp-nya hilang di tengah-tengah konser Daya. Huhu.

Jika diukur dari sisi We The Fest sebagai sebuah festival, saya akui bahwa Ismaya sudah berhasil membuat WTF sebagai sebuah festival seutuhnya. Berbagai suguhan penampilan selain musik juga digelar, lalu ada stand-stand yang unik seperti GoChill yang menyediakan foto 3D yang sedang ngehits, WTF Cinema Club yang menyuguhkan film-film indie bikinan anak negeri, karaoke ria di stand Ruru Radio, Art Village dan stand lainnya. Namun ada satu hal yang menyamakan semua stand di atas dengan segala keunikannya, yakni stand untuk berfoto yang instagramable banget. Pas sekali untuk remaja milenial yang haus akan feed yang penuh estetika. Akhir kata, We The Fest 2017 memuaskan!

0 komentar:

Post a Comment