Jurnal Bakdes Part1

Hari pertama:

Kami sampai di sana pukul 10.30. Dan, disana kami pun harus menunggu kepastian dimana kami akan bermukim. Yup, ini adalah prelude saja, sama sekali gak ada ramenya. Karena, sesampainya kami di keluarga asuh sana, ternyata kami hanya disuruh istirahat, sama sekali gak disuruh apa-apa.


Hari kedua:

Malam ini, saya gak bisa tidur. Asu kampret. Kenapa? Karena badan saya kedinginan, amat sangat. Selain karena saya gak bawa selimut, suasananya pun memang gak nyaman buat tidur (btw, saya tidak disuruh tidur di kandang kuda lho, padahal hidung udah mirip banget gini).

Hari itu, kita juga ke ladang, dan seperti biasa teman  saya yang disamarkan namanya, yaitu A*yrul (gak ngaruh ya? Peduli ah), kebelet b*ker di tengah tengah serunya menanam bibit bawang daun. Akhirnya, dengan instingnya yang luar biasa, doi pun pergi kebawah bukit, untuk melunasi hutangnya.

Nah, pas A*yrul balik lagi keatas, dia pun berteriak, "Wooy, di bawah kagak ada aer!!" . Hwakakak, dan semua pun tertawa. Semua pun pasti paham, kalau c*bok gak ada air, maka alternatif satu-satunya adalah c*bok pakai daun. Dan, dia mengakuinya. Dan, dunia pun tercengang.

Satu lagi ketololan hari itu. Jadi, karena bosan berada di rumah terus, saya pergi ke rumah temanku yang berada tidak jauh dari situ, sebenarnya untuk mengajak mereka main ke rumahku. Nah, setelah mereka pada mau, saya menjadi penunjuk jalan bagi mereka untuk ke rumahku.

Nah, pas di jalan gang, tinggal beberapa blok lagi sampai di rumah saya, ternyata hujan turun dengan derasnya. Maka dari itu, saya yang tidak membawa payung berlari menuju rumahku, meninggalkan yang lain.

Tapi, pas sampai di belokan, persis bebarapa blok lagi menuju rumah, saya melihat sesosok makhluk menyeramkan dengan mata kelam dan lidah yang terjulur keluar.


Ternyata...


Bersambung

0 komentar:

Post a comment