Review Film: Ant Man(2015)





Semenjak kesuksesan Guardians Of The Galaxy dan trilogi Iron Man, penggemar Marvel percaya bahwa Marvel mampu mengangkat kisah ‘the unsung hero’ atau superhero yang kurang terkenal dalam komiknya ke layar lebar dengan apik. Beda halnya dengan kisah Captain America dan Hulk yang sudah cukup akrab di telinga kita-kita yang notabene bukan penggemar komik Marvel. Dan di installment ke 19 kali ini Marvel Studios mencoba melakukan hal yang sama untuk Ant Man. Mampukah Marvel Studios membawa Ant Man meraih cinta para penggila Marvel sekaligus menyamai kesuksesan para pendahulunya?

Suatu ketika ada seorang ilmuwan bernama Hank Pym(Michael Douglas) yang berhasil menciptakan sebuah serum yang dapat membuat penggunanya mengecil jadi sebesar semut, tapi kekuatannya meningkat pesat. Di tempat lain, seorang pencuri handal bernama Scott Lang(Paul Rudd) secara tidak sengaja menemukan kostum Ant Man di rumah Hank yang dibobolnya. Akhrnya Scott dan Hank harus bahu membahu untuk menjaga kerahasiaan teknologi Ant Man sembari menghadapi musuh-musuh yang tak terduga.



Sebelum beranjak ke review filmnya, mari kita bertanya ke diri kita sendiri, siapa sih Ant Man itu? Mayoritas dari kita kemungkinan besar baru mendengar Ant Man semenjak dirilisnya film ini. Hayo ngaku! Hehe. Akui sajalah, Ant Man memang tidak seheroik Captain America, tak seflamboyan Iron Man, tak sebrutal Hulk, tak seanggun Black Widow, dan tak seabsurd Guardians Of The Galaxy. Tapi percayalah, Ant Man bercerita dengan gayanya sendiri. Bagi teman-teman yang masih skeptis dengan apa hebatnya Ant Man, apakah kalian sudah menontonnya? Dan juga bagi yang tidak tertarik menonton dengan alasan apa serunya menonton superhero imut bertarung di dunia yang mikroskopis, cobalah untuk menontonnya. Karena sekali lagi, Ant Man mampu bercerita dengan gayanya yang unik. Marvel kembali memberikan sentuhan komedi yang meledak-ledak, hampir mirip seperti apa yang dilakukan di Guardians Of The Galaxy. Hampir setiap 5 menit sekali tawa penonton meledak melihat tingkah laku tiga sahabat Scott yang sangat konyol, selain Scott sendiri tentunya.Selain itu Peyton Reed sang sutradara mampu membangun emosi yang baik antara Scott dan Hank yang lebih seperti hubungan ayah dan anak. Selain itu, hubungan penuh konflik antara Hank dan Hope(Evangeline Lily) sebagai anak kandungnya Hank juga diberi porsi yang cukup.Cukup bila saya katakan disini tiga kata yang paling pas menggambarkan Ant Man versi Paul Rudd yaitu: slengean, kocak, dan cerdas.

Sulit untuk tidak cinta pada Ant Man setelah menontonnya. Dan lucunya perasaan yang sama pun muncul ketika saya menonton Guardians Of The Galaxy. Ini menunjukkan bahwa Marvel Studios makin mumpuni dalam mengangkat kisah hero-hero kurang terkenal ke dalam filmnya. Sebuah pertanyaan klise pun muncul. Apakah Ant Man bakal bergabung ke dalam tim Avengers, setidaknya muncul sebagai peran kecil di film-film Marvel selanjutnya? Karena itulah, jangan beranjak dari kursi Anda sebelum filmnya benar-benar habis. Karena kali ini Marvel Studios ‘menghadiahi’ dua credit scene sekaligus dalam satu film, yang sangat penting untuk eksistensi Ant Man dalam Marvel Cinematic Universe nantinya. Segeralah Anda menonton Ant Man. Tidak ada kata telat untuk menyukai Ant Man dan MCU pada umumnya, karena seperti kata Scott, ‘Sorry I’m late, I was saving the world. You know how it is.’ Yaa, sambung-sambungin ajalah ya.

0 komentar:

Post a comment