Cutting Edge #1: Elephant Kind yang Sedang Merangkak ke Permukaan


Sometimes I feel like I can turn the world upside down
Sometimes I feel like I can never be wrong
Sometimes I feel like there is something more than I want

Pernahkah Anda mendengar penggalan lirik ini? Atau musik yang ceria dan mengentak-entak yang mengiringi lirik ini? Ataukah, anda sudah kenyang cenderung bosan dengan Barasuara yang  menguasai panggung musik indie selama pertengahan hingga akhir 2015 ini? Hmm...sepertinya Anda harus banyak searching tentang band-band indie yang mulai naik ke permukaan selama tahun 2015 ini. Selain Barasuara (say all hail to the king, folks!), ada juga unit folk Silampukau, trio rock n roll Kelompok Penerbang Roket,   dan unit indie alternatif ala Polka Wars. Lalu, yang terakhir ini adalah pengusung aliran indie pop. Mereka pernah manggung bareng Barasuara dan Payung Teduh di acara Musca Bandung sebulan yang lalu( iya,yang penuhnya tak manusiawi itu), dan sudah merilis 2 EP.Yap, band itu adalah..

ELEPHANT KIND.

Jadi, band ini didirikan oleh Ibam Mastro yang awalnya seorang produser dari penyanyi bernama Neonomora, yang juga adalah kakak kandungnya sendiri.  Selepas menempuh pendidikan di Australia selama 11 tahun, dia kemudian balik ke Indonesia untuk mendirikan band ini bersama teman-temannya di Neonomora juga. Di band ini, Ibam berperan sebagai vokalis, penulis lagu, sekaligus produsernya. Dia dibantu oleh Bayu Adisapoetra, Dewa Pratama, dan John Paul Patton.

google.com

Pada akhir 2014 lalu, Elephant Kind merilis EP pertamanya yang berjudul Scenarios. Lalu dilanjutkan dengan hadirnya Promenades di pertengahan 2015 lalu. Jujur saja, saya termasuk sangat telat untuk mendengarkan band ini. Kemana saja saya selama ini baru tahu ada band sekeren Elephant Kind? Yang pasti, popularitas Elephant Kind baru naik sekitar setahun terakhir, dan uniknya bertepatan dengan naiknya demam Barasuara. Itulah alasan kenapa Elephant Kind belum merilis album penuhnya, karena seperti kata Bam Mastro, “Barasuara sedang menguasai pasar, makanya kami tak terburu-buru dan memilih merilis lagu kami secara bertahap, untuk mengetahui selera pasar”, seperti dikutip dari wawancara di Detikhot.

Jika diibaratkan dari namanya sendiri, Elephant Kind adalah seekor gajah, yang sedang berusaha melindungi dirinya dari kumpulan makhluk-makhluk besar yang mengelilingi sarangnya, mereka dipimpin oleh singa bernama Barasuara yang sedang kuat-kuatnya saat itu. Gajah tersebut hanya perlu menunggu momen dimana kumpulan binatang itu kecapekan lalu pergi dari sarangnya, sehingga gajah tersebut dapat muncul dan dapat menunjukkan jati diri dan kehebatannya ke lingkungan sekitarnya. Kurang lebih.

Elephant Kind menyebut genre musik mereka sebagai indie pop. Kenapa memilih indie pop? Karena mereka menganggap musik pop lebih mudah diterima khalayak. Namun indie pop yang diusung Elephant Kind adalah pop yang unik. Mereka memasukkan bebunyian unik-seperti semacam mainan anak-anak- ke dalam lagu-lagu mereka. Sekilas musik mereka mengingatkan kita pada Vampire Weekend, meskipun saya sendiri belum pernah mendengar Vampire Weekend, itu semata pendapat khalayak saja. Dan mereka, khususnya Bam memilih menulis semua lirik dalam bahasa Inggris semata-mata karena dia tidak mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.


kapanlagi.com

Dari kedua EP yang sudah dirilis, EP pertama yang berjudul lengkap Scenarios: A Short Film by Elephant Kind lebih bernada riang nan gembira. Seperti judulnya, Scenarios adalah sebuah album berisi delapan lagu yang memiliki keterkaitan satu sama lain yang dihubungkan oleh kisah  satu karakter bernama Julian Day. Disitu diceritakan dia putus asa terhadap hidupnya kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di usia muda. Meskipun tema universalnya terasa gelap, Elephant Kind menerjemahkan tema itu kedalam musik yang segar dan beirama gembira, seperti halnya Arctic Monkeys di album-album awal mereka. Lagu-lagu yang kemudian menjadi hits dari EP ini adalah Oh Well, Scenarios I dan Scenarios II. Lalu EP kedua yang berjudul Promenades: A Short Film by Elephant Kind memiliki musik dan lirik yang cenderung lebih kelam, meskipun ada satu track yang masih mengikuti fondasi dari EP pertama, yaitu With Grace. 




Satu hal lagi yang menarik dari Elephant Kind, mereka memang sengaja mengonsep dengan matang kedua EP mereka, karena pada umumnya EP dibuat hanya sekedar ‘numpang lewat’. Nah, mereka ingin agar Scenarios dan Promenades menjadi jembatan yang sempurna untuk album full perdana mereka yang rencananya rilis tahun depan, baik secara konsep keseluruhan maupun secara fondasi musik. Selain itu, karakter Julian Day yang Elephant Kind munculkan di kedua EP tersebut rencananya juga akan mereka angkat ke dalam film sungguhan, setidaknya itulah yang bisa saya simpulkan dari foto-foto syuting yang dipost di akun instagram resmi Elephant Kind di @ElephantKind.

Dalam beberapa bulan terakhir, Elephant Kind mulai mendapat banyak tawaran gig, mulai dari Musca di Bandung, opening untuk band Circa Waves di Jakarta, hingga pensi di SMA Harapan 1 Medan. Dari semua gig tersebut mulai tampak bahwa Elephant Kind mulai memanen massa perlahan demi perlahan,seperti crowd yang pecah amat sangat di Medan. Saya yakin dalam beberapa bulan kedepan Elephant Kind bisa segera meraup massa pendengar yang besar. Dan, dengan musik pop indie unik yang diusung, saya pun yakin Elephant Kind bisa terus berkibar di ranah musik nusantara hingga mancanegara, dan setidaknya tidak akan membosankan seperti Pay*ung Te*duh. Ups, hehe.




0 komentar:

Post a comment